Senin, 28 Mei 2018

Jadi lah penulis

Jadi penulis bukanlah jalan, tapi bisa jadi salah satu jalan.
Liat begitu banyaknya tulisan yang bisa mengubah hidup orang. Lebih tepatnya mengubah pandangan seseorang. Aku jadi semakin tertarik dengan dunia ini.

Jadi penulis bukanlah hal yang bisa dibanggakan tapi bisa begitu dinikmati. Jangan pernah menyesal dengan apa yang kamu tulis. Itu aja sebenarnya kuncinya.
Selain kamu harus mengerti apa yang kamu tulis. Kamu pun harus bisa tanggung jawab dengan apa yang kamu tulis.
Mungkin aku perlu membuat blog lagi untuk ku isi hal hal yang lebih berfaedah.
Tapi setelah ku pertimbangkan secara serampangan. Kurasa tak perlu..
Biarlah ini menjadi blog satu satunya yang bakal sering aku tulis dengan banyaknya pemikiran yang menyusupi sumsum tulang belakangku.
Terimakasih Tuhan, atas anugrah ini.

Tidak ada anugrah yang lebih hebat selain akal. Bukan kah kita dimuliakan karna akal yang kita miliki?

Jadi, menulislah. Selagi menulis itu tak dilarang (ingat zaman pak harto. Tidak semua orang bisa bebas menyampaikan gagasannya).
Kau punya akal manfaatkan lah!
Beri cerita kalau otakmu itu berfungsi.
Ingat ini, ketika gagasanmu didahului atau mungkin ada yang mengambil gagasan dari obrolanmu. Itu sakit bung!

Menulis lah! Ceritakan hidupmu.
Cirebon, 22 Mei 2018

Selasa, 06 Februari 2018

Jurusan apa?

saat konsultasi ke BK pertanyaan yang pertama adalah "kamu mau jadi apa nanti?"
(Mikir) aku sendiri bingung,  aku ini apa? siapa? jadi gimana?
Dan yang aku jawab waktu itu "jadi manusia yang manusiawi, orang yang banyak manfaat." kurasa ingin ku hanya itu.
kemudian, "lebih spesifik lagi lis,emang nya kamu mau jadi tukang sampah? itu juga kan bermanfaat. kamu ingin punya profesi apa?"
mungkin maksud BK ku ini pekerjaan tetap yang akan aku geluti selama menunggu kematian.
aku bingung... tapi aku sering bilang, "pekerjaan apapun, asal jangan guru." Dan itu jadi jawaban yang aku lontarkan.

"kenapa tidak ingin jadi guru?"

yeah, karna dedikasi pada pendidikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa tidak harus menjadi seorang guru. aku suka mengajar, tapi aku tidak begitu suka menjadikannya profesi.   

"terus profesi apa yang kamu inginkan?"
aku ingin jadi pengusaha. aku lihat, jual-beli saham sangat menguntungkan.

itu "milih jurusan yang banyak matematikanya"
kepikir buat masuk teknik, lantaran aku suka ngotak-ngatik barang.

"kamu perempuan, nanti pensiun mau ngapain?"
persamaan gender itukan perlu.

akhirnya, aku disarankan untuk ambil ITS untuk Teknik Fisikanya. atau mungkin ITB.
Aku menceritakan diskusiku dengan BK ke Ibu.

sampai disini aku belum menemui titik temunya.

orangtuaku membebaskan aku dalam memilih, asal masih dalam batasan mereka.
kebebasan ini justru membuat aku bingung. aku harus kemana? (eh?!)
batasannya cukup menyenangkan. aku bebas milih jurusan apa. tapi aku hanya dibolehkan memilih univ di Jawa Barat. Dan pilihan itu banyak, aku bingung!
awalnya aku hanya ingin ambil ilmu murni, yeah aku terkena dokrin yang diajarkan disekolahku.
"untuk pengembangan ilmu, membuat peradaban baru". tapi sepupuku menyarankan untuk mengambil ilmu terapannya.

Aku jadi semakin bingung..
Dan sampai pada akhirnya, aku memilih apa saja. "Asal matematika" 😁

Rabu, 31 Januari 2018

Mulai apatis entahlah

Mungkin dulu aku terlalu berharap. Sampai mungkin aku terlalu sering dikecewakan. Hingga pada akhirnya, aku menjadi orang yang apatis. Bahkan untuk perasaanku sendiri 😌

Akhir akhir ini banyak yang mendekati ku. Mereka bilang, aku terlalu menarik dan terlihat menyenangkan untuk ditemani.
Itu bualan yang menyebalkan.sungguh.

Nyatanya, diantara semua. Tidak ada satu pun yang membuatku menaruh hati untuknya. Atau jangan² aku telah benar benar memberikan hatiku untuk lelaki itu?
Aku tidak tahu..

Teringat akan dirinya, aku masih sesak.
Rindu. Mungkin.
Aku tidak mengerti.

Keapatisan yang aku buat, sudah terlalu dalam dirasa. Sampai banyak yang menegur ku.

"Jangan terlalu kaku lis."
"Kau itu susah diajak romantis."
"Cobalah lebih terbuka."
"Cobalah untuk mengenali perasaanmu."
"Jangan begitu..."

Dan masih banyak lagi keluhan yang aku terima 😑 aku tidak peduli.

Iya, jujur ku akui..
Aku belum dapat berdamai dengan hatiku. Setelah aku berikan untuk nya. Beberapa bulan lalu..

Sudahlah, aku ingin menangis saja rasanya 😢
Aku lemah bila berbicara cinta dan perasaan akan ke lawan jenis.

Sudah.. Entahlah..
Akan jadi seperti apa perasaan ini nantinya.
Hatiku rasanya sudah membeku.
Biar sajalah, aku apatis dengan perasaanku. Sampai aku benar² melihat ia pergi.

Selasa, 30 Januari 2018

Terlalu sesak

Terlalu sesak aku. Terlalu sesak mengingat mu.
Malam ku tak lagi sama dengan ribuan prosa yang kau buat.
Aku jelita mu yang terkungkung dalam jeruji kesepian.
Terlalu sesak aku. Terlalu sesak.
Aku yang hanya dapat melihat rupa dalam tawa mu.
Kenapa senyum mu mudah ku ingat?
Padahal kau sulit tuk mengingatkan hatimu sendiri.

Ah! Persetan dengan semua prosa mu.
Kau bunuh saja semua, biar darah membeku.

31 Januari 2018, Cirebon

Saat aku tak lagi berasa.